Beranda » DAERAH » Mahasiswa Unikarta Dibekali Literasi Keuangan, Pegadaian Tekankan Emas sebagai Penjaga Nilai di Tengah Tekanan Ekonomi

Mahasiswa Unikarta Dibekali Literasi Keuangan, Pegadaian Tekankan Emas sebagai Penjaga Nilai di Tengah Tekanan Ekonomi

Sudutindonesia.info, Kutai Kartanegara – Suasana Aula Serbaguna Kantor Bupati Kutai Kartanegara, Senin (18/5/2026), dipenuhi ratusan mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEBIS) Universitas Kutai Kartanegara (Unikarta). Lebih dari 200 mahasiswa angkatan 2025 dan 2026 mengikuti kegiatan Generasi Tring Goes to Campus hasil kolaborasi PT Pegadaian Cabang Tenggarong bersama FEBIS Unikarta.

Bukan sekadar seminar biasa, kegiatan ini menjadi ruang edukasi bagi mahasiswa, untuk lebih melek finansial di tengah kondisi ekonomi yang dinilai semakin menantang. Mulai dari bahaya investasi bodong, jebakan pinjaman online, hingga pentingnya investasi emas sejak dini menjadi pembahasan utama dalam kegiatan tersebut.

Manajer Non-Gadai Pegadaian Cabang Tenggarong, Achmad Sabri, mengatakan program tersebut merupakan agenda nasional Pegadaian untuk mendekatkan diri kepada generasi muda, khususnya mahasiswa.

Menurutnya, mahasiswa saat ini perlu dibekali pemahaman keuangan agar tidak mudah tergoda jalan pintas yang justru berisiko menimbulkan masalah di kemudian hari.

“Banyak anak muda sekarang ketika butuh biaya cepat akhirnya mengambil keputusan ke pinjol atau investasi yang tidak jelas. Nah, di sini Pegadaian hadir untuk mengenalkan bagaimana cara cerdas dan bijak mengelola keuangan, termasuk pentingnya investasi sejak dini,” ujarnya.

Sabri menilai, di tengah kondisi ekonomi yang penuh tekanan dan harga kebutuhan yang terus naik, emas masih menjadi instrumen investasi yang relatif aman karena mampu menjaga nilai aset dari inflasi.

“Pada 2017, harga emas sekitar Rp25 ribu per gram dan dengan nilai Rp5 juta bisa mendapatkan kurang lebih 200 gram emas, setara dengan harga satu unit sepeda motor saat itu. Sementara pada 2026, harga motor rata-rata sudah naik menjadi sekitar Rp35 juta, namun harga emas juga ikut meningkat hingga sekitar Rp2,6 juta per gram. Artinya, emas yang disimpan sejak lama tetap memiliki nilai yang terus bertumbuh.” jelasnya.

Menurutnya, hal tersebut menunjukkan bahwa emas memiliki daya tahan terhadap inflasi dibanding hanya menyimpan uang tunai dalam jangka panjang.

“Emas itu menjaga nilai aset kita. Jadi daya beli tetap bisa bertahan meski kondisi ekonomi berubah,” tambahnya.

Tak hanya itu, Pegadaian juga menegaskan komitmennya untuk terus membangun kedekatan dengan kalangan kampus dan generasi muda.

“Kami berharap agenda seperti ini terus berlanjut. Pegadaian sekarang juga ditunjuk sebagai bullion bank di Indonesia, sehingga kami punya semangat ‘MengEMASkan Indonesia’. Karena emas ini bisa menjadi penopang kebutuhan masyarakat di masa depan,” katanya.

Sementara itu, Dekan FEBIS Unikarta menyebut kolaborasi dengan Pegadaian menjadi bagian dari strategi kampus dalam meningkatkan kualitas lulusan melalui kerja sama dengan berbagai mitra eksternal.

Ia mengatakan, mahasiswa tidak cukup hanya dibekali teori di ruang kelas, tetapi juga perlu mendapatkan pengalaman dan wawasan langsung dari praktisi.

“Kalau di kampus banyak teori yang sudah kita sampaikan, tapi melalui kegiatan seperti ini mahasiswa bisa belajar langsung tentang literasi keuangan, investasi, dan bagaimana menghadapi dunia nyata,” ungkapnya.

Ia menambahkan, sepanjang 2026 FEBIS Unikarta aktif menjalin kolaborasi dengan berbagai lembaga, termasuk LPS dan Pegadaian, demi menciptakan lulusan yang lebih siap bersaing di dunia kerja.

“Nanti juga ada program praktisi mengajar dari Bank Indonesia, perbankan, dan lembaga lainnya. Jadi mahasiswa punya nilai tambah yang lebih bagus,” ujarnya.

Menurutnya, kerja sama dengan Pegadaian sudah berlangsung dua kali selama masa kepemimpinannya sebagai dekan. Bahkan, kolaborasi tersebut disebut telah membuka peluang kerja bagi mahasiswa.

“Kemarin ada lulusan terbaik yang langsung diwawancarai dan diproses oleh Pegadaian. Jadi dampaknya nyata untuk mahasiswa,” katanya.

Ia berharap kegiatan serupa terus dilakukan di angkatan berikutnya agar mahasiswa ekonomi memiliki kualitas dan daya saing yang lebih kuat di tengah tantangan zaman.

“Sekarang zamannya sulit, tidak bisa jalan sendiri. Semua harus berkolaborasi supaya mahasiswa punya bekal yang kuat untuk masa depan dan berbakti ke masyarakat,” tutupnya.(Nita)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *