Gence Ruan, Cita Rasa Asap Sungai Mahakam yang Jadi Ikon Kuliner Kutai Kartanegara

Sudutindonesia.info, Kutai Kartanegara — Dari aroma asap yang menggoda hingga rasa pedas manis yang menggugah selera, Gence Ruan menjadi salah satu kuliner khas Kutai Kartanegara yang tak lekang oleh waktu. Hidangan tradisional berbahan dasar ikan gabus ini telah diwariskan turun-temurun oleh masyarakat pesisir Sungai Mahakam sebagai simbol kearifan lokal dan kekayaan cita rasa Nusantara.
Gence Ruan berasal dari dua kata, “Ruan” yang berarti ikan gabus, ikan air tawar yang banyak hidup di sungai-sungai Kutai Kartanegara dan “Gence”, istilah lokal untuk sambal bakar khas Kutai. Masakan ini terbuat dari ikan gabus yang dibakar hingga matang, kemudian disiram sambal gence yang dibuat dari cabai, tomat, bawang merah, serta rempah pilihan.
Hasilnya adalah perpaduan rasa gurih, pedas, asam, dan sedikit manis dengan aroma asap yang khas. Biasanya, Gence Ruan disajikan di atas daun pisang atau wadah anyaman bambu, ditemani nasi putih, sambal tambahan, dan lalapan segar seperti timun dan kemangi.
“Gence ruan itu adalah ikan gabus atau dalam bahasa Kutai disebut jukut ruan.Ikan dibelah kemudian dibakar, lalu di atasnya diberi sambal cabai. Biasanya disajikan saat makan siang bersama lauk seperti sayur labu santan,” jelas Puji Utomo, Kabid Kebudayaan Disdikbud Kukar, Senin (27/10/2025), usai Forum Diskusi Budaya.
Bagi masyarakat Kutai Kartanegara, Gence Ruan bukan sekadar makanan. Ia merepresentasikan hubungan erat masyarakat dengan alam, terutama sungai sebagai sumber kehidupan. Tak heran, kuliner ini kerap hadir dalam berbagai acara adat, jamuan resmi, hingga hidangan untuk tamu kehormatan.
“Gence ruan itu makanan khas Kutai yang memang perlu kita angkat dan lestarikan. Sekarang sudah banyak ditemukan, bukan hanya di Tenggarong, tapi juga di Muara Kaman, Muara Muntai, hingga Sebulu. Biasanya kalau ada kunjungan Bupati atau tamu dari luar, Gence Ruan selalu dihidangkan,” ungkap M. Saidar, Pamong Ahli Muda Bidang Cagar Budaya Disdikbud Kukar.
Keduanya sepakat bahwa Gence Ruan memiliki potensi besar untuk didaftarkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTB). Menurut M. Saidar, kuliner ini sudah termasuk dalam kategori Objek Pemajuan Kebudayaan (OPK) dan bisa dikembangkan lebih lanjut dengan kajian mendalam terkait bahan baku, teknik pengolahan, hingga rempah yang digunakan.
“Potensi itu memang ada. Tapi dari pusat nanti akan menilai, apakah kuliner ini juga ada di daerah lain. Kalau Kutai yang lebih dulu mengusulkan, tentu bisa jadi nilai tambah,” tambah Puji Utomo.
Lebih dari sekadar hidangan, Gence Ruan adalah simbol kelezatan dan identitas masyarakat Kutai. Dalam setiap gigitan, tersimpan cerita panjang tentang tradisi, alam, dan rasa syukur terhadap hasil sungai yang melimpah. Kini, Gence Ruan bukan hanya dikenal di Kutai Kartanegara, tapi juga menjadi ikon kuliner Kalimantan Timur yang mulai dilirik wisatawan dan pecinta kuliner Nusantara.
“Harapan kami, kuliner seperti Gence Ruan bisa terus diangkat, dikenal luas, dan menjadi kebanggaan daerah. Ini bukan hanya soal rasa, tapi tentang warisan yang harus dijaga,” Pungkas saidar. (Anita R)

