Beranda » ADVERTORIAL » DINAS PARIWISATA KUKAR » Batu Ampar, Wisata Edukatif dari Hati Desa Loa Raya

Batu Ampar, Wisata Edukatif dari Hati Desa Loa Raya

Sudutindonesia.info, KUKAR – Di balik tebing batu yang menjulang dan rimbunnya pepohonan di Desa Loa Raya, Kecamatan Tenggarong Seberang, tersimpan sebuah kisah tentang semangat membangun dari desa.

Wisata Batu Ampar, yang lahir dari gotong royong dan kesadaran lingkungan, kini tumbuh sebagai destinasi edukatif yang mengedepankan harmoni antara alam dan manusia.

Dibuka sejak 2022, kawasan ini bukan sekadar lokasi berkemah atau tempat berswafoto.

Di sinilah warga desa mencoba menyampaikan pesan besar bahwa alam bukan hanya untuk dinikmati, tapi juga dijaga dan dipelajari bersama. Kepala Desa Loa Raya, Martin, menyebut Batu Ampar sebagai ruang belajar hidup.

“Kami tidak sedang membangun tempat wisata biasa. Batu Ampar adalah ruang konservasi, ekonomi sirkular, dan pemberdayaan warga. Di sinilah masyarakat belajar menjadi tuan rumah di tanah sendiri,” ungkap Martin saat diwawancarai via telepon, pada Kamis (10/7/2025).

Dari awal pengembangan, warga terlibat dalam semua proses. Bukan hanya sebagai pekerja, tapi sebagai perancang konsep. Mereka ingin menghadirkan wisata yang produktif, berkelanjutan, dan memberikan pengalaman berkesan bagi keluarga.

Kini, geliat ekonomi mulai tampak. Beberapa warga membuka homestay, sebagian merintis produk herbal, dan lainnya merancang paket edukasi lingkungan bagi pelajar maupun komunitas luar daerah. Batu Ampar menjadi ladang ide yang subur, tempat di mana kreativitas dan kesadaran tumbuh bersama.

Ke depan, desa ini juga menyiapkan kawasan kebun konservasi. Isinya bukan tanaman hias biasa, melainkan tumbuhan obat khas Kutai dan praktik pertanian ramah lingkungan yang bisa dipelajari langsung oleh pengunjung.

Semangat warga Loa Raya tak luput dari perhatian Dinas Pariwisata Kukar. Plt. Kadispar, Arianto, menyebut Batu Ampar sebagai contoh nyata ekowisata yang muncul dari inisiatif akar rumput, bukan sekadar proyek dari atas.

“Desa ini tidak menunggu program. Mereka bergerak. Bukan cuma bikin tempat wisata, tapi membangun kesadaran kolektif. Itu jauh lebih kuat,” kata Arianto.

Sebagai bentuk dukungan, Dispar Kukar akan memfasilitasi pelatihan pemandu lokal, strategi branding digital, hingga penyusunan standar pelayanan berbasis edukasi. Bahkan Batu Ampar sedang diusulkan masuk ke daftar destinasi prioritas komunitas pada 2026.

Menurut Arianto, kekuatan Batu Ampar bukan pada luasnya wilayah atau banyaknya wahana. Justru dari otentisitas dan nilai edukatifnya, destinasi ini dinilai mampu menarik wisatawan yang mencari makna, bukan sekadar hiburan.

“Ini bukan soal besar atau kecil. Tapi soal relevansi. Batu Ampar menjawab kebutuhan wisatawan masa kini: pengalaman yang jujur, dekat dengan alam, dan dikelola oleh tangan warga sendiri,” pungkasnya.

Desa Loa Raya telah membuktikan bahwa perubahan bisa dimulai dari hal kecil. Dan lewat wisata Batu Ampar, mereka tidak hanya menjaga alamnya, tetapi juga merawat harapan yang tumbuh di tengah warganya.(Adv/Dispar Kukar)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *