Beranda » DAERAH » Era Digital, Budaya Tak Boleh Hilang: Erwin Riyadi Gaungkan Literasi dan Inovasi Budaya Kukar

Era Digital, Budaya Tak Boleh Hilang: Erwin Riyadi Gaungkan Literasi dan Inovasi Budaya Kukar

Sudutindonesia.info, Kutai Kartanegara — Di tengah semarak Ekspresi Budaya Tradisional Kutai Kartanegara 2025 di Taman Titik Nol Tenggarong, Sabtu malam (11/10/2025), gaung pelestarian budaya berpadu dengan semangat literasi dan digitalisasi.

Pembina Gerakan Literasi Kukar, Erwin Riyadi, menyerukan pentingnya transformasi literasi menuju era digital tanpa meninggalkan akar budaya daerah.

Dalam dialognya bersama masyarakat, Erwin Riyadi menegaskan bahwa kemajuan teknologi harus menjadi sarana memperkuat, bukan menggantikan, nilai-nilai lokal.

“Budaya kita harus hidup di dunia digital. Anak muda sekarang membaca dari layar, bukan lagi dari buku. Maka budaya harus hadir lewat tulisan, video, dan konten kreatif yang mengenalkan identitas Kutai,” ujarnya bersemangat.

Ia menyebut, Gerakan Literasi Kukar kini tidak hanya fokus meningkatkan minat baca di sekolah, tetapi juga bertransformasi menjadi gerakan literasi digital berbasis kearifan lokal.

Melalui kolaborasi dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kukar, pihaknya mengembangkan program digitalisasi arsip budaya, dokumentasi kesenian tradisional, serta publikasi daring agar generasi muda dapat belajar budaya dengan cara yang lebih modern dan menarik.

“Kita ingin budaya tidak hanya disimpan di lemari, tapi bisa diakses dari mana saja. Bayangkan anak SD di hulu bisa menonton Tari Jepen lewat platform digital, atau membaca legenda Kutai dalam bentuk e-book interaktif. Itulah literasi masa depan yang berpihak pada kearifan lokal,” jelas Erwin.

Semangat ini mendapat dukungan penuh dari Kepala Bidang Kebudayaan Disdikbud Kukar, Puji Utomo, yang menilai literasi digital menjadi jembatan antara pelestarian dan kemajuan.

“Budaya tidak boleh tertinggal oleh zaman. Justru lewat teknologi, kita bisa melestarikan dengan cara yang lebih luas dan menarik bagi generasi muda,” ujarnya.

Malam itu, dari panggung Titik Nol Tenggarong, semangat literasi dan budaya berpadu dalam satu pesan kuat: Kutai Kartanegara tidak hanya menjaga warisan, tetapi juga menulis sejarah baru di era digital. (Anita R)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *