Beranda » DAERAH » Satu Tahun Asta Cita di Lapas Tenggarong Dari Razia Hingga Panen Lele dan Kangkung, Bukti Nyata Transformasi Pemasyarakatan

Satu Tahun Asta Cita di Lapas Tenggarong Dari Razia Hingga Panen Lele dan Kangkung, Bukti Nyata Transformasi Pemasyarakatan

Sudutindonesia.info, Kutai Kartanegara — Dalam momentum satu tahun implementasi Asta Cita Presiden Prabowo Subianto yang diintegrasikan ke dalam 13 Program Akselerasi Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan, Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Tenggarong menorehkan berbagai capaian luar biasa. Di bawah kepemimpinan Suparman, Lapas Tenggarong menunjukkan komitmen kuat menjalankan program itu serta memperkuat keamanan, menekan overkapasitas, mendukung ketahanan pangan, dan mendorong kemandirian ekonomi warga binaan sepanjang tahun 2025.

Tak terasa setahun sudah berlalu sejak Asta Cita Presiden Prabowo Subianto dicanangkan pada 20 Oktober 2024 dan diterapkan secara konkret oleh Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan, Agus Andrianto, melalui 13 Program Akselerasi.

Sebagai salah satu Unit Pelaksana Teknis (UPT) di bawah Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan, Lapas Kelas IIA Tenggarong menunjukkan langkah progresif dalam mendukung arah kebijakan tersebut.

Kepala Lapas Kelas IIA Tenggarong, Suparman, menegaskan bahwa pihaknya berkomitmen menjalankan program sesuai arahan kementerian, baik dalam bidang keamanan, pembinaan, maupun pemberdayaan.

Dalam aspek keamanan dan ketertiban, Lapas Tenggarong mencatat pelaksanaan 49 kali razia selama satu tahun terakhir. Kegiatan tersebut mencakup razia insidentil, terjadwal, hingga gabungan bersama aparat penegak hukum lain.

“Langkah ini dilakukan untuk memastikan kondisi hunian tetap kondusif dan bebas dari potensi gangguan keamanan,” jelas Suparman, Selasa (21/10/2025).

Selain itu, guna menekan overkapasitas hunian, sebanyak 130 narapidana telah dipindahkan ke sejumlah UPT Pemasyarakatan di Balikpapan dan Samarinda. Proses pemindahan tersebut dilakukan berdasarkan hasil assessment risiko yang dilakukan pihak Lapas.

Sementara itu, 434 warga binaan memperoleh kebebasan melalui program Pembebasan Bersyarat (PB) dan Cuti Bersyarat (CB) sepanjang periode satu tahun terakhir.

Tidak hanya fokus pada pembinaan mental dan kedisiplinan, Lapas Tenggarong juga aktif mendukung program ketahanan pangan, dengan membentuk Satuan Tugas (Satgas) Ketahanan Pangan. Meski memiliki lahan produktif terbatas sekitar 500 meter persegi, hasil yang dicapai cukup membanggakan.

“Alhamdulillah, selama setahun kami berhasil memanen 95 kilogram telur bebek, 145 kilogram kangkung, 167 kilogram timun, dan 51 kilogram lele,” ungkap Suparman.

Dari sisi pemberdayaan ekonomi, Lapas Tenggarong kini fokus mengembangkan UMKM berbasis keterampilan, seperti meubelair, barbershop, dan jasa pendukung lainnya. Kegiatan ini menjadi wadah bagi warga binaan untuk mengasah keahlian sekaligus menghasilkan nilai ekonomi.

“Hasil dari kegiatan ini juga memberikan premi bagi warga binaan yang bekerja, dan turut menyumbang Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP) sebesar Rp15 juta, dengan total premi WBP mencapai Rp22 juta,” tambahnya.

Sebagai bentuk inovasi, pada 14 Oktober 2025, Suparman menginisiasi kerja sama strategis dengan sejumlah mitra melalui proyek perubahan bertajuk SEHAT (Sinergi Enam Hati). Program ini mengusung konsep hexahelix yang melibatkan berbagai pihak untuk memperkuat ketahanan pangan, tak hanya di dalam Lapas, tetapi juga di tingkat masyarakat Kutai Kartanegara.

“Dengan semangat kolaborasi, kami ingin manfaat program ketahanan pangan ini bisa dirasakan lebih luas, tidak hanya oleh warga binaan,” ujar pria yang dikenal gemar bermain golf tersebut.

Sebagai wujud kepedulian sosial, Lapas Tenggarong turut menyalurkan 180 paket bantuan sosial kepada keluarga warga binaan dan masyarakat sekitar yang membutuhkan.

Satu tahun perjalanan implementasi Asta Cita di Lapas Kelas IIA Tenggarong, menjadi bukti nyata bahwa lembaga pemasyarakatan bukan hanya tempat pembinaan, tetapi juga pusat transformasi dan kontribusi nyata bagi masyarakat. Di bawah kepemimpinan Suparman, semangat perubahan terus digelorakan demi mewujudkan pemasyarakatan yang aman, mandiri, dan berdampak sosial. (Anita R)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *