Festival Mecaq Undat: Napas Budaya Dayak Kenyah di Tengah Modernisasi


Sudutindonesia.info, KUKAR – Di ujung utara Kutai Kartanegara, tepatnya di Desa Tukung Ritan, Kecamatan Tabang, suara genderang adat masih menggema, menandai bahwa warisan leluhur belum pudar ditelan zaman.
Di desa kecil ini, Festival Mecaq Undat digelar bukan sekadar ritual tahunan, tapi pernyataan sikap bahwa budaya harus tetap hidup dan dirayakan.
Festival yang rutin digelar setiap pertengahan tahun, tepatnya pada bulan Mei, menjadi titik temu antara masa lalu dan masa kini. Di tengah derasnya arus modernisasi, Tukung Ritan tampil berani mempertahankan tradisi. Mereka tidak memilih jalan mudah dengan melupakan adat, tapi justru menjadikannya kekuatan utama.
“Budaya tidak boleh hanya jadi cerita masa lalu,” ujar Kepala Desa Tukung Ritan, Ubang Ului saat dikonfirmasi media ini, pada Senin (28/4/2025).
Baginya, Mecaq Undat adalah wajah desa yang ingin terus hidup dalam napas leluhur, tidak hanya untuk dikenang, tetapi diwarisi, dipelajari, dan dilanjutkan.
Festival ini menjadi arena bagi berbagai ekspresi budaya Dayak Kenyah. Dari lomba menyumpit yang melatih ketepatan dan kesabaran, hingga tari lintas generasi yang menghubungkan anak-anak dengan para tetua. Tidak ketinggalan, semangat para ibu pun turut mewarnai festival lewat lomba senam yang energik.
Pada puncaknya, 5 Mei lalu, ritual “numbuk beras” menjadi sajian sakral yang paling ditunggu. Dengan iringan doa dan nyanyian adat, prosesi ini menggambarkan rasa syukur dan semangat gotong royong, nilai yang menjadi dasar kehidupan masyarakat pedalaman Kalimantan.
Sayangnya, geliat ekonomi lokal belum sekuat semangat budayanya. Pelaku UMKM yang hadir masih bisa dihitung dengan jari. Hanya segelintir pedagang yang menawarkan suvenir dan pangan lokal. Padahal, potensi ekonomi kreatif desa ini tak kalah kaya dengan budayanya.
Cuaca yang tak bersahabat juga menjadi tantangan. Lapangan terbuka yang direncanakan sebagai pusat kegiatan terpaksa ditinggalkan.
Festival akhirnya dipusatkan di Lamin Biok, rumah adat yang menjadi jantung komunitas. Meski sempit, suasana khidmat tetap terjaga.
Di sisi lain, Dinas Pariwisata Kutai Kartanegara tak tinggal diam. Lewat promosi visual dan dokumentasi, mereka berupaya menjaga agar Festival Mecaq Undat dikenal lebih luas.
Plt Kabid Pemasaran, Awang Ivan Ahmad, menyebut pentingnya kolaborasi untuk menjadikan festival ini sebagai magnet wisata budaya.
“Kita butuh sinergi baik pemerintah, masyarakat, dan swasta. Festival ini bisa jadi magnet pariwisata kalau kita kelola bersama,” ungkap Ivan.
Festival ini bukan semata acara seremonial. Ia adalah cermin ketahanan identitas budaya dalam menghadapi gempuran homogenisasi. Sebuah desa kecil, dengan kekuatan tradisinya, berani berdiri di tengah arus zaman.(Adv/Dispar Kukar)

