Beranda » ADVERTORIAL » DINAS PARIWISATA KUKAR » Sungai Bawang Pertahankan Identitas Dayak Kenyah Lewat Festival dan Tari Rutin Mingguan

Sungai Bawang Pertahankan Identitas Dayak Kenyah Lewat Festival dan Tari Rutin Mingguan

Sudutindonesia.info, KUKAR – Di tengah derasnya arus modernisasi, Desa Sungai Bawang di Kecamatan Muara Badak tetap berdiri teguh sebagai penjaga identitas budaya Dayak Kenyah.

Masyarakat adat di desa ini tidak sekadar melestarikan, tapi juga menghidupkan kembali tradisi leluhur melalui aktivitas harian dan pertunjukan budaya yang kini mulai menarik perhatian wisatawan.

Salah satu kekuatan desa ini terletak pada konsistensi mereka menampilkan tarian Dayak Kenyah setiap akhir pekan. Tarian itu bukan sekadar pertunjukan seni, tetapi juga wujud penghormatan kepada alam dan roh nenek moyang yang dipercaya senantiasa hadir dalam kehidupan sehari-hari.

Tradisi tersebut berpadu dengan perayaan tahunan bertajuk Festival Budaya “Mencaq Undat”, sebuah agenda yang telah menjadi tonggak budaya sekaligus ajang berkumpulnya masyarakat untuk menampilkan seni, ritual, dan kearifan lokal.

Kepala Bidang Pengembangan Destinasi Wisata Dispar Kukar, M Ridha Fatrianta, menyebut festival ini telah menjadi bagian dari strategi promosi wisata budaya di Kukar. Dinas Pariwisata, menurutnya, sudah beberapa kali memberikan dukungan terhadap penyelenggaraan agenda tersebut.

“Desa Sungai Bawang itu sudah kita dukung dalam beberapa pelaksanaan festival. Ini jadi daya tarik wisata berbasis budaya yang kita dorong terus,” ujar Ridha, saat ditemui di ruang kerjanya pada Selasa (8/7/2025).

Namun demikian, Ridha menekankan bahwa pelestarian budaya secara struktural merupakan bagian dari tugas Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kukar.

Dalam hal ini pihaknya lebih berperan dalam mengemas dan mempromosikan potensi tersebut agar dikenal luas sebagai destinasi wisata yang unik dan autentik.

Kolaborasi antara masyarakat adat, pemerintah desa, serta dua dinas ini diyakini menjadi kunci keberhasilan dalam mempertahankan keberlanjutan budaya lokal yang berdaya saing tinggi.

Selain pertunjukan seni, Desa Sungai Bawang juga dikenal karena nilai-nilai adat yang masih dijunjung tinggi. Misalnya dalam pembangunan rumah, masyarakat tetap mengikuti proses adat yang melibatkan tokoh masyarakat dan ritual penghormatan terhadap alam.

Bagi wisatawan yang datang, pengalaman berkunjung ke desa ini bukan sekadar melihat pertunjukan, tapi juga merasakan atmosfer kehidupan yang sarat makna dan spiritualitas.

Ridha menyebutkan bahwa pendekatan wisata berbasis kearifan lokal seperti ini bisa menjadi alternatif utama untuk menyeimbangkan pertumbuhan sektor pariwisata dengan pelestarian budaya.

“Kita perlu menonjolkan keunikan lokal. Sungai Bawang salah satu contohnya, di mana budaya bukan hanya dipertontonkan, tapi benar-benar dijalani,” tutupnya.(Adv/Dispar Kukar)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *