DLHK Kukar Ajak Warga Ubah Minyak Jelantah Jadi Produk Kreatif Bernilai


Sudutindonesia.info, KUTAI KARTANEGARA – Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Kutai Kartanegara mendorong warga memanfaatkan minyak jelantah sebagai bahan baku produk kreatif, sekaligus mengurangi risiko pencemaran lingkungan. Langkah ini diharapkan membuka peluang ekonomi baru sekaligus menumbuhkan budaya daur ulang di tingkat rumah tangga.
Program ini digagas untuk memanfaatkan limbah rumah tangga yang selama ini dianggap berbahaya, menjadi produk bernilai seperti lilin hias dan sabun cuci, yang kini sudah dikembangkan kelompok masyarakat binaan DLHK di beberapa wilayah Kukar.
Kepala Bidang Pengelolaan Sampah dan Limbah B3 DLHK Kukar, Irawan, menjelaskan:
“Salah satu inovasi yang berhasil dikembangkan adalah lilin dari minyak jelantah. Produk ini banyak dipakai sebagai souvenir pernikahan maupun acara seremonial lainnya,” ujarnya saat ditemui di Tenggarong ttp Oktober 2025.
Menurut Irawan, pengolahan minyak jelantah menjadi produk kreatif ini menjadi bagian strategi DLHK dalam menanamkan konsep ekonomi sirkular kepada masyarakat. Dengan pendekatan ini, limbah tidak lagi dipandang sebagai beban, melainkan sebagai sumber daya yang bisa menghasilkan nilai ekonomi.
Ia menambahkan, DLHK Kukar akan memamerkan berbagai produk olahan minyak jelantah dan limbah rumah tangga lainnya dalam kegiatan bersama PKK dan Dharma Wanita pada 30/9/2025. Pameran ini menjadi sarana berbagi ide dan inspirasi antar pelaku daur ulang kreatif.
“Kami ingin masyarakat melihat langsung bahwa pengelolaan minyak jelantah bisa membuka peluang usaha baru. Hal ini dapat menjadi tambahan penghasilan, khususnya bagi ibu rumah tangga,” jelas Irawan dengan antusias.
Selain menciptakan nilai ekonomi, pengolahan minyak jelantah juga berperan mengurangi pencemaran air akibat pembuangan sembarangan, sekaligus memperkuat budaya daur ulang di tingkat keluarga. DLHK terus memberikan pendampingan dan pelatihan bagi warga yang tertarik mengembangkan produk berbahan limbah.
Meski demikian, Irawan mengakui tantangan terbesar adalah rendahnya kesadaran masyarakat untuk mengumpulkan dan mengolah minyak jelantah. Banyak warga belum menyadari dampak limbah ini terhadap kualitas air tanah dan ekosistem.
“Tantangannya ada pada perubahan pola pikir. Kita harus terus edukasi warga bahwa minyak jelantah bisa berbahaya jika dibuang sembarangan, tetapi sangat bermanfaat bila dikelola dengan benar,” ungkapnya.
DLHK Kukar pun berencana memperluas program edukasi melalui sekolah, kelompok masyarakat, dan bekerja sama dengan pelaku UMKM agar minyak jelantah menjadi bahan baku produk kreatif. Gerakan ini diharapkan menjadi bagian dari upaya besar mewujudkan Kukar yang bersih dan berkelanjutan.
“Tidak mungkin tanpa hambatan, tapi semua tantangan bisa dijawab dengan langkah berkelanjutan, pendampingan, dan perubahan pola pikir masyarakat,” pungkas Irawan.(Adv/DLHK KUKAR)

